Tentang Saya

Nama lengkapMawan Agus Nugroho, S.Kom, M.Kom
PekerjaanGuru (PNS) dan Dosén
Unit kerjaUPTD SMK Negeri 1 Kota Tangerang
SMK PGRI 1 Kota Tangerang
AMIK/STMIK PGRI Kota Tangerang
Facebookhttps://www.facebook.com/mawan911
https://www.facebook.com/masmawan (page)
Twitterhttps://twitter.com/mawan911

Mawan A. Nugroho tanggal 15 Mei 2010Saya dilahirkan di Kesdim 0506 Tangerang (rumah sakit tingkat distrik, khusus keluarga tentara) pada tanggal 12 Mei 19xx jam 5.55 wib. Pada masa itu belum banyak kendaraan umum. Paling-paling oplet. Itupun jarang muncul. Karena ambulan sedang ikut tugas ke Bekasi, maka ibu saya diangkut menggunakan truk tronton tentara. Ibu duduk di depan. Bapak tidak ikut mengantar karena termasuk di dalam tentara yang dikirim ke Bekasi untuk suatu tugas pengamanan. Sejak lahir sampai SMA menjelang kelas 3 saya tinggal di lingkungan asrama tentara infrantri, bernama Kompleks 203 Arya Kamuning. Bapakku adalah seorang tentara angkatan darat yang kemudian menjabat sebagai Provoost, sedangkan ibuku kala itu adalah seorang guru SD di sebuah sekolah kecil bernama SD Persit Kartika Chandra Kirana, yang sekarang bernama SD Negeri Jatake 1 dan 2. Saya mempunyai satu orang kakak perempuan bernama Tatik Kuswinarti. Saat ini sudah menikah dan mempunyai 1 orang anak perempuan. Ibuku adalah tipe pekerja keras. Pagi mengajar di SD Persit, siangnya ke SMP PGRI Jatiuwung yang berjarak sekitar 3 kilometer, menggunakan sepeda. Kadang jalan kaki jika jalan becek karena hujan.

Pada era reformasi (sekitar tahun 1998 sampai awal 2000-an) tentara mungkin dibenci oleh beberapa kawan kita di kampus-kampus karena sering bentrok saat demo menurunkan Orde Baru. Tapi bagi saya, kehidupan di lingkungan asrama tentara-lah yang telah menggembleng jiwa saya. Di situ saya diajarkan bagaimana arti disiplin, tak mengenal takut, suka bekerja keras, kesamaan, sekaligus kesetiaan kepada kawan dan korps. Melihat tentara digamparin oleh komandannya atau disuruh jungkir balik sepanjang lapangan sepakbola adalah pemandangan saya sehari-hari. Di sisi lain, profesi guru ibuku juga telah mengasah naluri welas kasih, keteladanan, dan kepemimpinan saya. Sejak kecil saya ikut ibu mengajar. Kadang saya bermain sendiri di halaman sekolah, dan terkadang ikut di dalam kelas menyimak pelajaran yang diberikan ibu. Tak heran, belum sekolah saya sudah bisa membaca dan menulis. Saya telah mencuri start ya? Hehehe...

Menginjak usia sekolah dasar, saya sekolah di SD Jatake. Kalau tidak salah, sayalah angkatan pertama yang mengenakan seragam putih merah. Kakak kelasku masih berseragam putih biru. Mungkin karena saya telah mencuri start, alhamdulillah saya selalu mendapat ranking pertama. Bahkan juara umum di antara 4 kelas (kelas A sampai kelas D). Saat itu yang selalu membayangi saya dengan ketat di ranking ke 2 dan ke 3 adalah teman-teman saya yang bernama Aang Gunaefi, Deden Teja Sukmana, Yuli Suhesti, dll. Prestasi itu terus saya pertahankan bahkan selama di SMP. Satu-satunya gelar yang lepas adalah di kelas 5 caturwulan ke 3. Saat itu saya disunat, dan hampir satu caturwulan saya tidak sekolah. Lama sekali ya? Memang. Saya "kering"nya termasuk lama. Ketika perban dicabut, berdarah lagi. Lalu dijahit ulang oleh pak dokter. Karena tidak pernah ikut ulangan (hanya mengandalkan nilai THB), akhirnya gelar juara 1 itu lepas. Kalau tidak salah, angkatan saya pulalah yang mengalami EBTANAS pertama kali. Saya mendapat NEM lumayan tinggi, yang lebih dari cukup untuk masuk ke SMP Negeri 1 Tangerang. Tapi karena saat itu bagi saya jarak ke Tangerang Kota terlalu jauh, saya memilih sekolah di SMP Jatake saja (sekarang bernama SLTP Negeri 8 Tangerang) yang hanya berjarak 20 meter dari rumah. Ngirit ongkos, dan jika istirahat bisa pulang minum ke rumah.

Kehidupan ekonomi kami saat itu lebih buruk dari rata-rata anak-anak zaman sekarang. Untuk menambah pendapatan, kami menjual es mambo. Mulai maghrib, kami sudah harus mulai menuang racikan es ke dalam plastik, dimasukkan ke freezer untuk besok paginya dijual dengan harga Rp 25. Jika ada pertandingan sepakbola antar kampung di lapangan Arya Kamuning (lapangan utama kompleks kami), saya juga ikut berjualan.

Jika di SD saya hanya ikut Pramuka (Siaga dan Penggalang), maka di SMP saya ikut PMR. Saya memang suka berorganisasi. Bahkan ketika kelas 2 pernah mencalonkan menjadi ketua OSIS, namun hanya mendapat perolehan suara peringkat ke 4 dari sekitar 8 atau 10 calon. Tentang cewek? Wop, saya penakut sekali. Oh ya, sebelum saya lupa, saya catat di sini bahwa saya dulu kelas 1E (wali kelas bapak Slamet), 2H (Ibu Suci), dan 3C (ibu Rita). Kepala Sekolahnya adalah bapak Astura.

Permainan bagi anak-anak kolong (sebutan untuk anak tentara) benar-benar tradisional sekali, misalnya lompat karet, sepakbola plastik, atau perang-perangan. Rumah-rumah di asrama tentara tidak boleh dipagar seperti rumah-rumah di perumnas. Paling-paling pagarnya hanya tanaman atau pagar bambu setinggi setengah meter yang mudah dilompati. Karena itulah rasa kebersamaan kami sangat erat. Jika perang-perangan dan terdesak, kami bisa bersembunyi di halaman rumah orang, mundur dari halaman rumah ke halaman rumah lainnya, atau bahkan bersembunyi di balik daun pintu masuk ruang tamu rumah orang lain. Rasanya hal seperti ini sulit dilakukan di luar kompleks asrama tentara. Salah-salah malah disangka mau maling. Jika lebaran, kami biasa saling bertukar kue dan ketupat ayam.

Saya lulus dari SMP dengan nilai NEM di luar perkiraan. NEM saya adalah tertinggi se-rayon. Benar-benar nilai murni! Yup, dulu saya bercita-cita ingin masuk SPG (Sekolah Pendidikan Guru). Namun karena NEM saya terlampau besar, beberapa kawan saya menyarankan agar saya memilih STM Penerbangan Jakarta atau SMA Negeri 1 Tangerang. Akhirnya saya memilih SMA Negeri 1 Tangerang. Kala itu yang sekolah di SMA 1 hanya saya dan Dian Hadian. Lima orang lainnya di SMA 2. Umumnya kawan yang lain sekolah di SMA Curug atau SMA Balaraja. Ada satu atau dua yang di SMKK, misalnya Pupung Purbawati.

Saya diterima di SMA Negeri 1 Tangerang sekitar pertengahan tahun 1988. Pada masa perpeloncoan, kakak pembimbing saya bernama kak Handi dan beberapa kakak kelas lainnya. Pada umumnya mereka galak, kecuali kak Helen (PMR) dan beberapa kakak lainnya. (Doh, saya paling susah menghafal nama orang). Kak Helen-lah yang mengajari saya melipat kacu PMR. Sampai sekarang, kebaikannya masih saya ingat terus. Hehehe...

Saya merasa beruntung sekolah di SMAN1TRA (istilah untuk SMA Negeri 1 Tangerang). Selain karena banyak tokoh nge-top pernah sekolah di sini --misalnya para pejabat Tangerang, Ria (anggota grup WARNA), Yunita Damayanti (covergirl majalah Gadis)-- juga karena reputasinya bisa dibanggakan. Tiap tahun separuh lebih lulusannya diterima di Perguruan Tinggi Negeri. Ekstra Kurikulernya juga disegani bukan saja untuk wilayah Tangerang, tapi tingkat provinsi. Di situ saya ikut banyak kegiatan, misalnya PMR, Pramuka, Paskibra, LDKS (Latihan Dasar Kepemimpinan Sekolah), MPK, dsb. Di luar sekolah, saya masih ikut kegiatan Drum Band Gita Bhakti Pramuka, kemudian pindah ke Marching Band Gita Wibawa Praja. Kursus komputer di LPKMD juga ikut, bahkan kemudian menjadi staf pengajar. Karena terlalu banyak kegiatan, sekolah saya malah sering ditinggalkan. Jika ada kegiatan pentas Marching Band di Istana Negara, Taman Mini, Bandung, atau GPMB, saya lebih senang meminta dispensasi tidak sekolah. Bahkan pernah seminggu lebih tidak belajar. Hasilnya, nilai saya terus menurun. Tapi syukurlah, kelas 2 saya masih bisa masuk ke jurusan A1 (Fisik). Oh ya, saya kelas 1.1, kemudian 2.A1.1, dan terakhir 3.A1.1. Kalau tidak salah, angkatan saya dulu kelas Fisik (A1) ada 3, kelas Biologi (A2) ada 2, dan Sosial (A3) ada 1 kelas. Teman sebangku: Kelas 1 = Dian Hadian; kelas 2 = FX Budi; kelas 3 = Christina. Kelas dua saya hampir berkelahi dengan Odi (2.A1.3). Konyolnya, di kelas 3 kami malah satu kelas.

Desember 1989, saya pindah rumah ke Perumnas II karena bapak saya pensiun. Ibu kemudian menjadi Kepala Sekolah SDN Parapat 4 (dekat dengan rumah kami). Sebelumnya ibu adalah Kepala Sekolah SDN Gembor IV, lalu SDN Perumnas XI, lalu Perumnas X. Waduh, tidak kronologis banget. Itulah, daripada keburu lupa, maka saya harus segera menuliskan otobiografi ini sebisa mungkin.

Ekonomi kami ketika saya di SMA sudah cukup lumayan dibandingkan saat masih SD. Tapi jauh dari kaya. Pada minggu-minggu pertama saya sekolah di SMA 1, saya pernah minta (bukan memaksa lho!) dibelikan es. Belakangan akhirnya kami malah jadi akrab. Mereka gadis Chinese kaya. Namanya Meylindawati dan Siska Astriani Susilo. Pernah pula saya kehabisan uang jajan. Saya lupa apakah memang kehabisan atau saya lupa meminta uang saku. Yang jelas uang hanya cukup untuk ongkos pulang. Padahal saat itu saya ada pelajaran olahraga. Setelah olahraga, karena haus saya ke keran pura-pura berkumur-kumur, padahal saya minum dua atau tiga tegukan air ledeng. Saya juga pernah berjalan kaki dari sekolah ke Cimone yang berjarak 5 kilometer. Itulah masa-masa sedih saya, yang sekarang malah menjadi kenangan manis tak terlupakan.

Kalau tidak salah, dulu ada ketentuan sekolah bahwa lulus kelas 3 harus membuat semacam makalah atau mempunyai ijazah komputer. Lalu saya mengantar Meylindawati, Siska Astriani Susilo, dan Rina Siagian mencari kursus komputer. Eh, saya malah ikut daftar bersama Mey dan Siska (Rina tidak daftar). Itulah titik terpenting dan paling berpengaruh bagi masa depan saya. Sebelum SMA saya bercita-cita ingin menjadi guru. Ketika SMA bingung mau menjadi apa. Ketika kursus komputer, saya semakin tertarik dengan dunia pemprograman komputer. Awalnya ketika anak-anak KIR (Kelompok Ilmiah Remaja) SMAN1TRA membuat program-program bagus menggunakan bahasa Basica. Program-program itu kemudian dipamerkan di Pameran Hapsak Pancasila. Wah, saya berpikir, pastilah kawan-kawan saya itu bangga karena programnya dilihat oleh orang se-Tangerang (Di pameran itu memang selain pameran antar sekolah, juga ada pameran dari instansi pemerintah, BUMN, dan juga ada pameran pedagang kakilima dan komedi putar, hehehe).

Saya mulai dari bahasa Basica (GW-Basic), kemudian Pascal, Clipper, C, dst. "Saya harus sehebat kawan-kawanku di KIR," begitu kira-kira tekad saya. Alhamdulillah, karya saya malah sering dimuat di majalah Mikrodata. Malah saya memenangkan lomba pembuatan ReadMe yang diadakan oleh Mikrodata. Kala itu belum ada Windows 95. Hampir seluruh program masih berjalan di MS-DOS 3.xx. Ketika UMPTN, saya memilih Teknik Komputer UI (pilihan 1) dan Teknik Komputer UGM (pilihan 2). Sayang semuanya tidak lulus. Memang jurusan ini termasuk sulit. Hanya menerima 35 orang dari sekitar 1500 pendaftar. Setelah nganggur selama 2 tahun, saya lalu memilih kuliah di PTS Komputer. Dulu saya sudah sempat dan diterima di Binus (Bina Nusantara). Tapi karena faktor biaya, jarak, waktu, dsb, diputuskan pindah ke STMIK Indonesia di Grogol yang lebih murah dan hanya satu kali naik bis dari rumah, yaitu Patas 24A (sekarang sudah tidak ada).

Ketika kuliah di STMIK Indonesia, saya ikut "the Crescendo Corps" Jakarta (semacam marching band, tetapi lebih ke gaya drum corps). Saya angkatan ke 4. Base-nya di SD Selong, Blok M. Di Crescendo-lah saya belajar disiplin dan latihan serius, serta mental juara. Suatu kebanggaan dapat masuk di babak Final GPMB, padahal dengan peralatan dan jumlah anggota yang minim. Yang kami miliki saat itu adalah pemain-pemain senior dan bertalenta "sempalan" MB Buldozer, MB Al-Azhar, MB Istiqlal, pelatih terbaik bapak Kirnadi, dan pembimbing spiritual Mr Ronald yang mampu memunculkan sugesti kekuatan indera bawah sadar untuk tampil terbaik di setiap lomba. Saya memegang Trombone.

Di STMIK Indonesia saya pernah menjadi pengurus Senat (sekarang disebut BEM).

Lulus kuliah (tahun 1998) saya langsung mengajar di SMK PGRI 1 Tangerang sebagai guru komputer. Tahun 2004 juga mengajar di SMK Negeri 1 Tangerang sebagai guru honorer. Tahun 2005 alhamdulillah lulus tes CPNS setelah pernah mencoba 4 kali tapi selalu gagal. Banyak orang bilang, untuk menjadi PNS harus menyogok. Tapi saya tidak. Demikian pula kakakku. Benar-benar modal otak, keberuntungan, dan doa dari ibuku yang tiap malam sholat Tahajjud demi masa depan anak-anaknya agar lebih baik. Awal tahun 2009 sudah lulus sertifikasi.

September 2009 ibuku sakit, lalu bulan Oktober beliau meninggal dunia. Saya sangat terpukul, sebab belum sempat menyenangkan beliau. Justru Mawan selalu membuat ibuku susah. Sekarang, ketika gajiku sudah lebih dari cukup dan bisa untuk menggantikan anting-anting ibuku yang ketika saya kecil anting-anting tsb dijual untuk biaya berobat saya yang sakit, ibuku justru tiada. Ibuku adalah orang hebat yang tak pernah mengeluh. Ibuku tidak benar-benar pergi, sebab ibuku akan selalu hidup, di hatiku yang selalu menyayangi dan membawa semua kenangan bersamanya, kemanapun Mawan pergi.

Dua pelajaran yang saya ambil hikmahnya: Ternyata takdir itu benar-benar ada, dan nyata! Dulu saya ingin menjadi guru. Setelah berjibaku di dunia komputer, toh akhirnya saya kembali lagi menjadi guru. Apakah ini bukan suratan takdir? Hampir seluruh "dinasti" kami adalah guru. Ibu, kakak, paman (alm), bibi (alm), suami bibi. Semua adalah guru. Itu dari pihak ibu. Dari pihak bapak pun banyak yang menjadi guru. Belum lagi dengan sepupu saya yang hampir dapat dipastikan akan menjadi guru juga. Intinya: Sekuat apapun saya menghindar, sebesar apapun prestasi yang saya raih di dunia komputer (menjadi programmer di BUMN, juara disain web, juara programming computer, dsb), toh saya kembali lagi menjadi guru. Apakah itu juga bukan karena suratan takdir? Siapa yang bisa menghindar dari takdir? Allah memang Maha Kuasa! Sangat-sangat Maha Kuasa.

Allah mempunyai maksud yang belum saya ketahui. Saya tahu dan yakin itu adalah yang terbaik bagi saya, walau bagi hati kecil saya yang buta ini, takdir Allah saat ini bukan yang terbaik bagi saya. Ambil saja hikmahnya: Saya bisa menjadi guru (seperti cita-cita semenjak kecil) sekaligus berada di depan komputer (seperti cita-cita saya kemudian setelah tamat SMA). Jadi guru itu menyenangkan, terlepas dari gaji yang kecil, hehehe. Adalah suatu kebanggaan dan kepuasan batin bila materi pelajaran yang saya berikan dapat diterima dengan baik oleh seluruh kelas. Dan mungkin hanya profesi gurulah yang bisa membuat orang menghormati saya, walau mereka (siswa-siswi) telah lulus. Jika saya berjalan-jalan ke mall lalu bertemu dengan alumni, mereka mencium tangan saya. Ini suatu kebahagiaan dan kehormatan tersendiri yang tidak bisa didapat dari profesi lain. Iya kan? Besar kecil gaji itu bukan masalah utama. Yang penting saya senang menjalaninya, dan saya juga cukup dihormati dan dihargai oleh kampus. Itu saja yang penting. Mengenai masa depan, saya tidak merasa takut menghadapinya. Saya yakin Allah mempunyai rencana terbaik bagi saya. Di masa depanlah segala harapan dan cita-cita saya pertaruhkan. Jadi mengapa mesti takut? Saya tidak boleh terpaku oleh kejayaan masa silam. Saya harus menatap masa depan. Menengok ke belakang hanya memperberat langkah. Hati kecil saya memang masih takut, tetapi saya tidak boleh takut, karena di masa depan saya masih mempunyai harapan dan juga ada kawan-kawan serta orang-orang yang mengasihiku, yang bisa memberikan rasa tenteram di hati.

Masalah baru setiap hari datang ketika masalah yang lama berhasil ditangani. Kadang sepele, tapi kadang rumit dan malah sempat membuat putus asa. Inilah perjuangan hidup. Saya menyadari bahwa lari dari masalah bukan suatu solusi, melainkan mengabaikan masalah dengan menumpuknya dan membiarkan tumpukan itu tumbuh menjadi gunung. Suatu saat gunung itu dapat meledak, menghantam kemampuan saya untuk bertahan. Karena itu, setiap masalah harus diselesaikan secepatnya, agar saya dapat mempersiapkan diri menyambut masalah baru yang saya belum tahu bentuk dan besarnya. Untunglah Allah menjamin dalam firmannya, "Di setiap kesulitan ada kemudahan. Sungguh, di setiap kesulitan ada kemudahan." Dua ayat inilah yang menjadi pegangan saya dalam mengarungi hidup yang penuh dengan badai dan gelombang besar. Berkali-kali saya mengalami bukti dari janji Allah ini. Ketika saya sudah hampir putus asa, tiba-tiba saja datang inspirasi dari diri sendiri atau pertolongan dari orang lain. Semakin tinggi pucuk pohon cemara, semakin besar angin yang menerpa. Semakin besar angin yang menerpa, semakin tinggi terbangnya layang-layang. Yang penting: Saya harus tetap berpikir terang, senang, dan optimis. Semua keadaan yang kita lihat tergantung warna dan jenis kacamata apa yang kita pakai. Bukankah begitu?

Saya bisa dihubungi melalui email di:
Email Mawan
Facebook Fans Page: http://www.facebook.com/masmawan

Website ini menggunakan CMS yang dibuat pada sekitar pertengahan Mei 2010 oleh saya sendiri di dalam kelas saat sedang mengajar mata pelajaran webdesign untuk siswa Multimedia. Awalnya hanya tentang membuat layout menggunakan Fireworks. Lalu ditambahkan modul login dan logout. Setelah itu ditambahkan modul tambah, edit, dan hapus artikel. Juga tentang paging. Lama-lama menjadi seperti sekarang ini. Jadi jika tampilannya sederhana atau kurang sempurna, mohon dimaklumi.

Administrator

Username:

Password:

All efforts to enter into this website are logged.
Unique Visitors
0781571
sejak 26 Mei 2010.

Atau rata-rata sekitar 286 pengunjung perhari.

IP addr anda:
54.156.92.243
Facebook
Mawan A. Nugroho

Promote Your Page Too
Mawan's Net

MbahDukun.com
SMK Negeri 1 Tng
SMK PGRI 1 Tng
PGRI.org
Tangerang.net
Mawan.net
Mawan.id
Mawan.my.id
Mawan.or.id
Mawan.web.id
SingleWoles.com
Balekota.com

MKom UBL 10

Blog
Mailing List

© 2010-2017 by Mawan A. Nugroho. All rights reserved.